“BALA” dan LABA Corona bagi INDUSTRI (bagian 3)

SEBAGIAN BESAR INDUSTRI MANUFAKTUR UTAMA TERPUKUL oleh COVID-19

NADINARASI.COM – JIKA pada bagian sebelumnya (bagian 2), telah uraikan berbagai perusahaan jasa terkena “Bala” dengan tekanan yang relatif kuat, maka pada bagian ini akan diuraikan bahwa industri manufaktur (pengolahan) juga tidak kalah beratnya terpukul “Bala” akibat pandemi Covid-19. Bahkan industri manufaktur tidak hanya terpukul akibat penurunan daya beli masyarakat, tapi juga pasokan bahan baku, dan perdangangan ekspor yang terganggu, serta pedagangan di dalam negeri yang terhambat distribusi produknya akibat pembatasan wilayah dalam berbagai bentuk oleh masyarakat di berbagai tingkatan wilayah. Karantina wilayah yang banyak diterapkan, terutama atas inisiatif warga lokal, termasuk pada lingkungan terkecil, seperti RT (rukun tetangga) dan RW ( rukun warga) juga relatif menyulitkan kegiatan distribusi barang di dalam negeri.

Bahan Baku dan Perdagangan Terganggu

Dari sisi bahan baku, salah satu kelemahan besar industri manufaktur Indonesia adalah ketersediaan bahan baku di dalam negeri yang terbatas (baik dari sisi kualias maupun kuantitas), mulai dari industri tekstil dan produk tekstil, industri sepatu atau alas kaki, industri furnitur, bahkan industri makanan dan minuman, industri kosmetik, serta industri aneka (kacamata, alat olah raga, perhiasan, barang kerajinan, mainan anak-anak dan lainnya).

Bacaan Lainnya

Selama ini bahan baku industri manufaktur banyak yang berasal dari impor, terutama dari China yang (konon) menjadi asal pandemi Covid-19 dan sejumlah negara lain yang juga mengalami kasus serupa. Hal ini menyulitkan pelaku industri manufaktur di dalam negeri dalam mendatangkan bahan baku impor. Jika (bahan baku) dapat dipenuhi dari negara lain pun, tetap menghadapi kesulitan karena berbagai negera memberlakukan pembatasan aktivitas pergerakan barang, terutama lockdown yang dapat menyulitkan mobilitas, atau kegiatan transportasi internasional, baik barang, jasa, maupun manusia.

Dapat diperkirakan bahwa jika bahan baku sulit dipenuhi, maka tidak dapat dihasilkan produk yang sesuai dengan permintaan atau kualitas yang diinginkan pasar. Akibatnya, kelangsungan atau masa depan usaha dapat bermasalah.

Kegiatan ekspor-impor terganggu

Demikian pula dengan terganggunya kegiatan ekspor, baik akibat turunnya permintaan maupun permasalahan di negara tujuan ekspor akibat pandemi Covid-19, maka produk yang dihasilkan akan mengalami kesulitan dalam penjualan, sedangkan di dalam negeri juga mengalami hal serupa. Apalagi negara utama mitra dagang tujuan ekspor Indonesia juga mengalami pandemi Covid-19 yang serius, yaitu China, Amerika, Eropa, dan Jepang, sehingga nilai ekspor akan mengalami tekanan yang signifikan dan dapat menyulitkan perusahaan atau para eksportir asal Indonesia. Akibatnya sejumlah industri manufaktur nonmigas di Indonesia mengalami tekanan cukup berat akibat dampak pandemi Covid-19.

Permintaan Produk Turun, Industri Manufaktur Tertekan

Di pasar dalam negeri juga mengalami tekanan yang tidak ringan. Penurunan permintaan domestik, yang selama ini mampu menyerap hingga 70 persen dari total produksi industri manufaktur dalam negeri, kini tertekan berat. Merosotnya permintaan barang di dalam negeri tersebut telah mendorong industri melakukan penyesuaian termasuk penurunan utilitas, yang bahkan kini menjadi hanya tinggal sekitar 50 persen. Ini artinya, separuh dari kemampuan produksi industri menganggur. Relatif rendahnya utilitas industri masih diperparah dengan adanya beban input dari impor serta tekanan kurs yang meningkat, sehingga nilai output menurun signifikan.

Tekanan dari sisi permintaan terhadap produk manufaktur tersebut juga tercermin pada angka Purchasing Manager’s Index (PMI) Manufaktur Indonesia yang sempat menyentuh angka 27,5 pada April 2020, meskipun pada Mei 2020 sedikit meningkat menjadi 28,6. Indeks PMI Manufaktur Indonesia yang diterbitkan oleh IHS Markit, untuk bulan April 2020 tersebut selain merupakan yang terendah dalam 9 (sembilan) tahun terakhir (sejak 2012), juga tercatat terendah di ASEAN. Dalam indeks PMI ini, IHS Markit menggunakan nilai 50 sebagai garis tengah. Indeks di atas 50 berarti ada keyakinan dari para manajer pembelian bahwa akan melakukan peningkatan persediaan sebagai antisipasi pertumbuhan. Sebaliknya, jika indeks di bawah 50, maka menandakan pesimisme perusahaan. Tertekannya industri manufaktur juga terlihat pada fakta di lapangan di antaranya tergambar pada kondisi beberapa industri utama berikut ini.

Industri Otomotif

Di bidang otomotif, tidak sedikit produsen kendaraan bermotor yang harus mengurangi produksinya menyusul mewabahnya Covid-19. Sejumlah pabrik otomotif di Indonesia beberapa bulan pada awal pandemi Covid-19 untuk sementara waktu mengurangi kegiatan produksi, bahkan ada yang menghentikan produksinya. Daihatsu misalnya, mengurangi kapasitas produksi dengan mengurangi kegaitan produksi dari dua shift menjadi satu shift,  bahkan waktu kerja diperpendek.

Demikian pula dengan Toyota, juga melakukan hal yang sama, bahkan pabrik mobil Honda menghentikan sementara kegiatan produksinya. PT Suzuki Indomobil Sales (SIS) juga melakukan hal serupa.  Langkah yang sama juga dilakukan oleh pabrik sepeda motor. PT Yamaha Indonesia Motor Manufacturing (YIMM) juga sempat menghentikan sementara kegiatan fasilitas produksinya, dan  PT Astra Honda Motor menerapkan penyesuaian kapasitas dan jadwal kerja karyawan di pabriknya. Pengurangan, atau bahkan penghentian sementara kegiatan pabrik tersebut, sebagian besar pabrik kendaran bermotor tersebut beralasan demi kesehatan seluruh elemen perusahaan, terutama untuk dapat melindungi karyawannya yang dianggap sebagai aset sangat berharga.

Penjualan Mobil dan sepeda motor anjlok tajam

Pos terkait