Produk Minuman Ringan Olahan Indonesia (bagian 2): Potensi Ekspor

-Minuman siap saji dengan tambahan warna dan rasa-

Meskipun demikian, tingginya peluang atau permintaan di pasar dunia  terhadap kelompok produk minuman RTD dalam kelompok HS 2202 ini, maka menjadi tantangan bagi industri di dalam negeri untuk dapat mengambil peluang global, dengan tetap memenuhi permintaan yang juga besar di dalam negeri. Nilai perdagangan produk ini terus meningkat dari US$ 18 miliar pada tahun 2015, mencapai sekitar US$ 22 miliar pada tahun 2019.

Oleh karena itu, perlu dirumuskan berbagai terobosan strategi yang mampu menarik minat ekspor para pelaku industri minuman ringan di dalam negeri. Produk-produk yang dapat dikembangkan dari kelompok HS 2202 antara lain disajika dalam deskripsi dalam tabel di bawah ini.

Bacaan Lainnya

Tren ekspor Indonesia untuk produk dalam kelompok HS 2202 sempat memperlihatkan peningatan dalam periode 2014-2017 dari US$ 57,22 juta pada tahun 2014, menjadi US$ 101, 27 juta. Namun kemudian merosot pada tahun 2018 menjadi US$ 95, 08 juta, dan pada 2019 menjadi US$ 93,31 juta. Padahal jika dilihat dari nilai perdagangan dunia memerlihatkan tren yang terus meningkat.

Data terbaru tahun 2019, nilai ekspor terbesar dibukukan oleh jenis produk dalam kelompok HS 2202.99, yaitu berupa minuman non-alkohol (tidak termasuk air, jus buah/sayuran, susu, dan bir). Nilai ekspor yang dibukukan oleh kelompok HS 2202.99 pada tahun 2019 mencapai US$ 63,09 juta. Ini berarti, berkontribusi hingga 68 persen dari total ekspor produk kelompok HS 2202 pada tahun yang sama (2019).

Permintaan secara global untuk produk minuman RTD dengan HS 2202 di dunia adalah negara-negara kawasan Amerika dan Eropa, yaitu sebagai pengimpor produk tersebut dalam jumlah banyak, Importir terbesar adalah Amerika Serikat yang pada tahun 2020 mencapai US$ 3,5 miliar atau 16 persen dari total perdagangan produk tersebut yang sekitar US$ 22 miliar tersebut.  Importir terbesar lainnya untuk produk tersebut adalah Jerman dengan porsi sekitar 6 persen, disusul Inggris dengan porsi 5 persan, serta Austria (US$, Belgia, Kanada, Belanda, dan Vietnam, dengan porsi impor  masing-masing sekitar 4 persen.

Untuk produk ekspor Indonesia dalam kelompok HS 2202 ini, tujuan ekspornya sebagian besar ke Kawasan Asia. Berdasarkan pengakuan para produsen jenis minuman ini, selain dilatarbelakangi oleh selera rasa yang hampir sama, alasan fokus tujuan ekspor di kawasan Asia juga karena biaya ekspor yang relatif lebih rendah dibandingkan ke kawasan Eropa atau Amerika. 

Oleh karena itu, selama ini tujuan ekspor paling besar atau sekitar 30 persen dari nilai produk minuman ringan RTD dengan HS 2202 adalah ke Singapura yang pada tahun 2019 mencapai nilai sekitar US$ 28,33 juta. Negara tujuan lainnya adalah Nigeria dan China, masing-masing sekitar 12 persen dan 10 persen. Ekspor selebihnya banyak ditujukan ke negara-negara ASEAN lainnya seperti Timor-Leste (9,5 persen), Vietnam (6 persen), Myanmar (4,5 persen), Malaysia dan Hongkong (masing-masing 4 persen), Kamboja (3 persen), dan Brunei Darussalam (2,5 persen).

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.