Industri Furnitur Indonesia (bagian 1):  Posisi Strategis dan Faktor Pendukungnya

Aneka produk furnitur Indonesia

Dengan unit-unit usahanya yang mengakar hingga ke pedesaan tersebut, maka pengaruh luasnya diharapkan tidak hanya dapat berkontribusi dalam menekan angka kemiskinan dan menghasilkan nilai tambah yang luas. Pengaruh positif lainnya adalah dapat mengurangi ketimpangan kesejahteraan masyarakat baik antar-strata sosial, maupun antar-wilayah, dari hasil aktivitas produktifnya. Bahkan dengan aktivitas ekspornya yang tampak makin tinggi tersebut, maka keberadaan industri furnitur diharapkan mampu berperan, turut menjadi penyangga perbaikan neraca perdagangan nasional yang lebih kuat.

Dukungan Kuat SDM dan Bahan Baku

Selain posisinya yang strategis dalam perekonomian, industri furnitur Indonesia berdaya tahan kuat yang tidak mudah goyah jika diterpa krisis. Ini setidaknya karena banyaknya unit usaha skala kecil yang mengakar hingga level pedesaan, dengan kekuatan bahan baku yang cukup, serta tenaga kerja, dan pasar yang besar di dalam negeri.

Bacaan Lainnya

Daya dukung kuat berupa sumber daya manusia (SDM) atau tenaga kerja yang relatif banyak, tampak pada jumlah penduduk usia kerja, dan angkatan kerta yang besar. Jumlah penduduk Indonesia yang merupakan terbanyak ke-4 di dunia, setelah China, India, dan Amerika Serikat, sangat menguntungkan industri untuk dapat berkembang. Bahkan besarnya jumlah penduduk tidak hanya sebagai penguat jumlah tenaga kerja, tapi juga sekaligus penguat pasar di dalam negeri melalui permintaan yang tinggi.

Indonesia pada tahun 2020, jumlah penduduknya sebanyak 273,5 juta jiwa, dengan jumlah penduduk usia kerja mencapai 208,54 juta jiwa, sebanyak 144,01 juta jiwa di antaranya adalah angkatan kerja. Jumlah penduduk usia kerja Indonesia tersebut 4x lipat jumlah penduduk Korea Selatan, 2x jumlah penduduk Vietnam, juga 1,7x lipat jumlah penduduk Jepang.

Bahkan jumlah penduduk usia kerja Indonesia tersebut mencapai 37x dari total jumlah penduduk Singapura, atau 6x lipat jumlah penduduk Malaysia. Jumlah terserbut sangat kuat mendukung industri-industri di Indonesia, termasuk industri furnitur, untuk dapat terus berkembang baik dalam pemenuhan kebutuhan tenaga kerjanya, maupun dukungan daya beli di dalam negeri.

Dari sisi bahan baku, industri furnitur juga memiliki daya dukung yang kuat. Indonesia juga memiliki potensi produksi kayu terbesar ke-3 di dunia. Hal ini diperkuat dengan luas hutan hujan tropis Indonesia yang berada pada urutan ke-3 terluas di dunia, setelah Brasil dan Kongo (Republik Demokratik Kongo) atau yang sebelumnya dikenal sebagai Zaire.

Indonesia memiliki hutan hujan tropis penghasil kayu terbesar ketiga di dunia

Hutan hujan tropis merupakan bioma dengan keanekaragaman jenis tumbuhan dan hewan yang tinggi-tinggi, subur, dengan curah hujan sepanjang tahun yang cukup. Hutan ini sangat mendukung bagi tumbuhnya pohon-pohon kayu keras yang besar, sehingga akan mampu mencukupi kebutuhan bahan baku kayu keras yang berkesinambungan, termasuk untuk bahan baku produk furnitur.

Belum lagi bahan baku rotan, Indonesia merupakan negara dengan produksi rotan terbesar di dunia. Sekitar 85 persen produksi rotan di dunia berasal dari Indonesia. Oleh karena itu, Indonesia menjadi negara dengan bahan baku rotan terkuat. Potensi produksi rotan yang dapat dihasilkan di Indonesia mencapai sekitar 622 ribu ton per tahun. Jauh lebih tinggi dari kebutuhan furnitur yang paling banyak sekitar 40 ribu ton hingga 60 ribu ton per tahun.

Bahan baku lainnya yang cukup kuat pasokannya di Indonesia bagi industri furnitur adalah bambu. Indonesia merupakan produsen bambu terbesar ke-3 di dunia dari sekitar 80 negara penghasil bambu di dunia. Penghasil bambu terbesar di dunia adalah China, diikuti India pada urutan ke-2, dan Indonesia pada posisi ke-3.

Selain besar jumlahnya, Indonesia juga memiliki jenis bambu yang banyak, yaitu mencapai 176 spesies dari total 1.620 jenis bambu yang ada di dunia.  Jumlah spesies bambu di Indonesia tersebut berarti mencapai sekitar 11 persen dari total dunia. Sebagian besar atau  sekitar 105 jenis bambu yang ada di Indonesia tersebut merupakan tanaman endemik, yang 50 persennya telah dimanfaatkan oleh masyarakat Indonesia.

Bambu bahkan berpotensi menggantikan kayu karena dapat diproses menjadi produk pengganti kayu. Dengan kreativitas dan kemajuan teknologi, bambu bisa diolah sebagai bahan baku yang dapat menggantikan kayu, termasuk bisa diolah menjadi papan. Bahkan serat bambu juga bisa untuk memenuhi bahan baku industri lain, termasuk tekstil.

Pasokan kayu bulat Indonesia untuk bahan baku industri cenderung meningkat setiap tahun.

Dukungan Jaminan Bahan Baku dan Pengembangan Produk

            Selain jumlahnya yang mencukupi tersebut, pemerintah Indonesia juga menjamin  terpenuhinya bahan baku, pengembangan produk, dan perbaikan iklim usaha. Bahkan pemerintah juga berkomintmen kuat pada upaya peningkatan pengembangan SDM, restrukturisasi permesinan industri, serta pemasaran produk, baik di dalam maupun di luar negeri atau ekspor.

Salah satu dukungan terhadap pemenuhan bahan baku telah diamanatkan melalui Undang-Undang (UU) Nomor 3 Tahun 2014, tentang Perindustrian. UU Nomor 3 Tahun 2014 ini secara luas dimaksudkan untuk memberikan jaminan dan kemudahan bagi masyarakat, terutama pelaku usaha dalam mendapatkan Perizinan Berusaha dan kemudahan persyaratan investasi dari sektor perindustrian.

Konten ini dapat dikutip, atau dipublikasikan ulang, dengan mencantumkan sumber nadinarasi.com

Pos terkait